Slider

Youtube

Puisi

Artikel

RPP

Cerpen

Pengetahuan Umum

Perangkat Pembelajaran

» » Mendung masih di mataku

Mendung masih di mataku
” Oalah..pak..pak..kamu tuh kalo mau judi, mbok ya dipikir dulu. Udah ga kerja malah uangku kamu habisin buat judi sama minum-minum karo koncomu itu. Aku yang cape pak, kerja siang malam jadi kuli angkut barang  di pasar. Jono perlu biaya banyak buat sekolah pak, si gendis juga susunya udah habis.” kataku nelangsa
” Plak..pllakk…kurang ajar kamu ngelawan sama suamimu. Kamu tuh perempuan  ndak usah ikut campur urusanku.”
” Aduh pak..sakit..sakit pak, ampun.”
” Ibu.. ibu..kenapa bu.. udah pakkk..jangan pukul ibu, jangan dipukul lagi pak.” teriak jono sambil menangis ketakutan.
Kalau begini terus rasanya hati ini ndak tenang. Wajah ini sudah sering babak belur, kesakitan sudah menjadi makananku sehari-hari.  Dulu suamiku orang yang sayang dan bertanggung jawab sama keluarga. Tapi semenjak dia di PHK, tingkahnya mulai tidak karuan. Pulang selalu dini hari, alasannya cari uang tapi selalu saja tercium bau alkohol dari mulutnya. Belum lagi noda lipstik dan bau semerbak parfum wanita nakal yang tertinggal di baju. Semua itu sudah membuat aku menjadi lebih terpuruk.
Oalah Gusti,,,kenapa kehidupan rumah tanggaku seperti ini. Aku hanya orang desa yang ndak tahu harus bagaimana lagi. Hanya ingin menjadi istri dan ibu yang baik buat keluargaku. Tapi kenapa bapak anak-anakku jadi wong edan, ndak pernah ngerti aku dan anak-anaknya.
” Jono, ibu mau pergi ke jakarta. Ibu mau kerja jadi pembantu, nanti uangnya bisa buat jono beli buku, tas sekolah. Adikmu Gendis juga bisa minum susu.” kataku . Ku tatap anak laki-lakiku dengan sedih.
“Jono sayang sama ibu. Ibu janji ya nanti jono sama gendis bisa tinggal sama ibu.  Jono takut sama bapak, bapak galak.”
” Iya ibu janji, nanti jono sama gendis bisa  ikut ibu. Selama ibu di jakarta, nanti jono sama gendis tinggal sama bude Minem ya.
Nelangsa hatiku, lihat anak-anaku Jono dan Gendis. Aku hanya ingin bisa melihat mereka bahagia.Itu saja sudah cukup buatku. Aku tak perduli lagi dengan bapak anak-anakku, biarlah dia senang-senang dengan dunianya sendiri.
Sore  ini kuputuskan berangkat ke jakarta naik kereta ekonomi Progo. Sesampainya aku di pasar Senen, sudah ada temanku yang menjemput. Dia Nunik koncoku dari desa, kami sudah seperti saudara. Dia yang mengenalkan aku ke majikannya.
Tunggu ibu nak,,,,ibu nanti bisa bawa pulang uang yang banyak. Kalian bisa makan yang enak, bisa beli TV jadi kalian ndak usah lagi numpang nonton TV di rumah pak Joko juragan beras. Bisa beli baju dan mainan yang bagus-bagus. Tunggu ibu nak,,,,tunggu ibu,,,,ibu sayang Jono dan Gendis.
Aku senang kerja di rumah Pak Hartoyo, keluarga mereka sangat baik. Keluarga Pak Hartoyo selalu perhatian sama semua pembantunya, tidak pernah sekalipun mereka bertindak kasar. Tak terasa sudah setahun aku bekerja di rumah ini. Dan ternyata Pak Hartoyo memperbolehkan anak-anakku tinggal di rumahnya dan akan membiayai sekolah Jono dan Gendis.  Aku bahagia kini keinginanku terwujud, aku bisa membawa anak-anakku ke Jakarta.
Semuanya sudah aku siapkan, oleh-oleh untuk Jono dan Gendis pun tak ketinggalan. Kutata rapi didalam koper, dan pagi ini aku berangkat naik kereta. Akan kujemput kedua buah hatiku, akan kubuat mereka bahagia. Tiba-tiba handphoneku berdering, oh ternyata bude Minem yang telfon.
” Assalamulaikum, ini Sun..sun..sundari ya?”kata bude dengan tergagap-gagap
“Iya bude, ini aku Sundari, kenapa bude, aku masih di stasiun Senen.” jawabku
“Kamu jadi pulang kan? Ya sudah hati-hati dijalan. Nanti kalau sudah sampai stasiun lempuyangan, bude jemput.”
” iya bude, nanti aku kabarin.” sahutku
Ada apa ini, tumben bude mau menjemputku di stasiun, biasanya juga ndak pernah. Dan dari stasiun biasanya aku naik andong sampai rumah. Tapi kenapa kepulanganku kali ini jadi istimewa buat bude. Aku jadi khawatir,  ada apa dengan semua ini. Ah…mungkin ini hanya perasaanku aja, sudahlah Sundari buang jauh-jauh pikiran jelekmu.
” Bude..sudah lama nunggu disini.”
” Aku sama pa’demu baru saja datang, kamu pasti cape ya? “
“Aku senang bude, akhirnya aku bisa ajak Jono sama Gendis tinggal di Jakarta. Aku kangen sama mereka, kok mereka ndak ikut bude?”
Sekilas aku lihat wajah bude yang tampak risau,,,,ono opo iki rasanya hatiku ndak enak terus. Pikiranku jadi semakin ruwet, mumet.
Kenapa angkot kok jalannya jadi kaya andong,,lelet ndak nyampe-nyampe. Ndak tau apa, aku wis kangen sama anak-anakku. Walah,,, kok banyak tetangga-tetanggaku dolan ke rumah. Aku jadi ndak enak, lah wong oleh-oleh yang aku beli ndak banyak. Tapi kenapa wajah mereka sepertinya tidak sumringah ya.
” Jono sama Gendis mana bude? kok mereka ndak keliatan. Apa mereka lagi main ya?”
” Lah..bude kenapa jadi nangis gitu toh, jelasin sama aku ada apa bude?”
” Jono sama Gendis dibunuh sama bapaknya, oalah …ndari, suamimu memang sinting, wong edan.”
Byarrr….seperti mendengar petir disiang bolong. Kenapa semuanya gelap,,,berharap aku ndak mau bangun lagi. Tak susul anak-anakku kemana mereka pergi. Jono, Gendis tunggu ibu nak

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply