Slider

Youtube

Puisi

Artikel

RPP

Cerpen

Pengetahuan Umum

Perangkat Pembelajaran

» » Cerpen: KENANGAN TAK TERLUPAKAN SAAT TUGAS DI DAEARAH TERPENCIL

KENANGAN TAK TERLUPAKAN SAAT TUGAS DI DAEARAH TERPENCIL

         Saat itu di tahun 2000 atau disebut tahun awal milenium, di desa yang jauh di wilayah Kec.Mantagai tepatnya di dusun Bukit Buas saya dan teman guru seperti hari-hari kerja sedang menjalankan tugas mengajar di sekolah tepatnya SDN Bukit Buas1, disaat saya sedang mengajar di kelas 5 dan 6 maklum karena kekurangan guru jadi kami harus mengajar dua kelas bahkan terkadang tiga kelas,tiba-tiba ada terdengar suara ketokan dinding sekolah sontak saja saya terkejut karena tidak biasa di jam mengajar ada orang datang ke sekolah ,maklum karena dusun yang sangat sepi apalagi di jam seperti ini masyarakat di dusun tersebut sibuk mmencari nafkah bekerja layaknya kerjaan di dusun yaitu ,menebang pohon (membatang), menoreh karet (memantat), menyedot emas (meemas) dan kegiatan lainya, 
       Begitu saya keluar untuk menghampiri seseorang yang mengetok diding sekolah tersebut ,tampat seorang perempuan paro baya dengan pakaian seadanya sambil sambil suara nafasnya terengah-engah berucap,,",pak...pak guru ,,ada apa jawab saya" .anu pak guru tau.belaku duhup lah ( bisa minta tolong lah )..minta tolong apa kata saya..anu pak guru tau lah menyembelih bajang ( gini bisa lah pak guru menyembelih kijang)..emang di mana kijangnya ,jawab saya .. ? huang kebun kaneh tukep ih eka.( di kebun sana dekat saja tempatnya ) kata ibu tadi,,mendengar kata dekat sesuai apa yang dikatakan ibu paro baya tadi..saya sambil liat jam tangan ternyata masih setengah jam lagi baru pulang sekolah, Ibu tadi masih menunggu di luar sambil raut wajahnya terlihat gelisah, bersama dengan ibu paro baya tadi saya berangkat menuju lokasi di mana kijang yang sudah semalaman terkena jerat, sambil jalan saya berfikir dalam hati ,katanya tadi dekat kok tidak sampai-sampai ,saya liat jarum jam tangan tidak terasa sudah berjalan sekitar 20 menit, karena sudah terasa agak lama berjalan saya tanya dengan ibu paro baya tadi, Bu masih jauh kah tempatnya,? dia tukep ih hindai (tidak dekat saja lagi) jawab ibu tadi dengan semangatnya
           Kami pun masih melanjutkan perjalanan walau kaki saya sudah mulai terasa pegal namun tidak begitu saya rasakan , dan pada akhirnya sampai juga di lokasi, yang ternyata perjalanan kami menurut ibu paro baya tersebut kurang lebih 4 pal ( 4 km ) ,,sontak hati saya terkejut sekaligus heran karena dihadapan saya terlihat seekor kijang yang sangat besar dengan kaki belakangnya terikat tali nilon,  terlintas difikiran saya bahwa kijang tersebut beratnya berkisar 80 kg bahkan bisa lebih, dan di dekat kijang tersebut sudah berdiri tiga  pemuda ( anak dari ibu paro baya)  yang seorang pemuda  memeggang sebilah mandau yang terlihat tajam, langsung saya pemuda tadi mengulurkan tangan memberikan mandau tersebut kepada saya,,seperti layaknya tukang jagal saya genggam erat-erat tangkai mandau, dan ke tiga pemuda tersebut memegang kaki kijang ,,dengan membaca doa menyembelih hewan berkaki empat akhirnya kijangpun  tak bernyawa lagi.  Setelah selesai penyembelihan saya pun pulang bersama ibu paro baya tadi, sesampai di perumahan guru saya duduk bersandar di dinding sambil meluruskan kaki yang terasa keju, setelah kaki sudah mulai kurang rasa pegalnya saya beranjak ke sungai untuk mandi,  pada malam hari sekitar pukul 19.30 wib , ada seorang mengetok pintu rumah seelah saya hampiri dan membuka pintu terlihat oleh saya seorang pemuda membawa kaki belakang kijang dan ember berisi daging dan hati kijang ,pemuda tersebut berkata" ini untuk pak guru daging kijang dan hatinya mudahan pak guru bisa makan daging kijang " ( itulah sekelumit suka duka kenangan semasa tugas di daerah terpencil, dan seorang guru ternyata di daerah adalah dianggap  orang yang serba bisa)

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply