Slider

Youtube

Puisi

Artikel

RPP

Cerpen

Pengetahuan Umum

Perangkat Pembelajaran

» » Penantianku Tidak Berujung

 Penantianku Tidak Berujung

Malam ini terasa begitu nyaman. Gelap, sunyi disertai rintikan air hujan yang terus jatuh seperti melantunkan nada-nada indah. Kucoba menutup mata ini, menarik napas dalam-dalam hingga ada suatu hal yang tidak dapat kumengerti muncul dalam pikiran ini. Apakah hal tersebut itu? Kucoba untuk menemui hal tersebut, mencari disetiap sudut-sudut pikiran ini. Kucoba memaknai akan setiap tetesan hujan yang melantun dengan indah itu. Hujan itu tidak memecah keheningan malam. Dia layaknya suara yang melengkapi suatu paduan suara dengan tembangnya. Membuat pikiran ini terus mengalir dan sampai pada sebuah persinggahan yang sementara membuat pikiran ini tenang. Kemudian alunan hujan itu terdengar seperti deburan ombak yang mulai memacu pikiran ini untuk terus mencari hal yang tidak dapat dimengerti.

Kemudian kucoba untuk mengerti maksud dari hal tersebut lewat kegelapan ini. Saat kututup mata, kegelapan ini sama halnya disaat membuka mata. Namun kegelapan itu mencoba membawaku ke suatu tempat yang tergambar abstrak pada suatu kanvas di kelopak mata. Kucoba untuk keluar dari tempat tersebut tetapi garis-garis abstrak meraih dan mencoba untuk menemani diri ini. Seketika rasa nyaman menaungi tubuh ini kemudian tubuh ini tersadar bahwa disana ia hanyalah seorang diri. Hingga akhirnya hal tersebut tidak dapat didefinisikan melalui pikiran, tapi hati ini dapat mengetahui bahwa hal tersebut mampu untuk menenangkan hati dan menyemangatkan jiwa.

Ketenangan hati dan semangat jiwa tidak dapat dirasakan seutuhnya. Ada saat dimana kita merindukannya namun mereka tidak datang. Seperti saat merindukan datangnya hujan untuk menghibur setiap lara lewat tetesannya yang menghasilkan nada-nada yang indah. Bahkan panas mentari tak mampu untuk menghangtkan hati ini. Sekarang hati ini seperti berada ditengah samudera yang terus diterjang oleh ribuan ombak hingga sampailah ia di daratan yang penuh dengan keraguan.

Hujan kembali menerpa diri ini disuatu tempat yang tak dapat dikenali. Tetesannya terus menerpa diri ini. Gejolak didalam jiwa mulai muncul tetapi tidak mendatangkan suatu hal yang mampu mebuat diri ini merasa nyaman dan tenang melainkan hanya mucul keraguan dan kekhawatiran. Hujan ini tidak mampu untuk mendinginkan suasana hati yang terlalu panas. Segala emosi terus meningkat. Setiap tetesan hujan ini hanya membawa luka bagi tubuh ini.

Seperti ada awan gelap datang menyelimuti daratan ini. Kucoba untuk menyambutnya dengan sebuah senyuman palsu. Namun awan itu tahu apa yang ada didalam hati dan pikiran ini. Ia menyambar tubuh ini hingga terasa sulit untuk bernapas. Tubuh ini terjatuh dan tidak mampu untuk melihat sesuatu. Semuanya gelap.

Kemarin tubuh ini lebih muda dari hari ini, kemarin juga semangatnya lebih tinggi dari hari ini. Ketika rasa putus asa mencapai puncaknya, mata ini dihibur dengan datangnya seberkas cahaya. Tetapi tubuh ini terasa begitu berat. Setiap sendi-sendi tak mampu untuk menggerakan tangan ini untuk menggapai seberkas cahaya tersebut. Hanyalah mata yang berseri-seri yang mampu untuk memandang. Ketika seberkas cahaya semakin dekat, ia terbelah menjadi dua. Keduanya pergi menjauh ke arah yang berlawanan. Seperti kehilangan harapan, demikianlah tubuh ini hanya bisa diam menunggu habisnya waktu.

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply