Slider

Youtube

Puisi

Artikel

RPP

Cerpen

Pengetahuan Umum

Perangkat Pembelajaran

» » Aku Anak Desa

Aku Anak Desa

Namaku Rezky Fadillah Nst. Aku seorang anak desa. Aku tinggal di desa bersama kedua orang tua dan kedua saudaraku. Aku tinggal di rumah yang sederhana. Dikelilingi oleh rumah – rumah dengan penghuni yang ramah.

Di rumahku, aku dipanggil dengan sebutan inang. Aku memanggil ibuku dengan sebutan umak dan kepada ayah dengan sebutan ayah. Di kampungku itu, terdapat golongan masyarakat kecil yang masih menjaga betul adat dan tradisinya.

Dipagi hari yang begitu cerah ini, rasanya hawa dingin sejuk dari pohon –pohon hijau yang menambah semangat hidup serasa menusuk tulangku. Terdengar begitu merdu kicauan burung – burung yang menyambut raja pagi yang mengintip dari ufuk Timur.

Jam masih menunjukkan pukul 05.00, kutarik selimutku untuk menutupi badanku yang menggigil. Suara azan shubuh, mulai berkumandang. Umak datang ke kamarku.

“Nang, azan sudah berkumandang, sebaiknya kamu bangun dan melaksanakan sholat. Lagi pula kamukan akan pergi sekolah “

“Iya umak, aku akan bangun “ ujarku seraya melepas selimutku dengan berat hati.

Aku langsung pergi mandi. Setelah mandi, aku langsung sholat subuh. Ku pakai seragam rapi dan bersih.

“Nang, ayo sarapan. Nanti terlambat, nang “

“Iya umak “

Aku lalu sarapan, heem begitu nikmat rasanya pagi – pagi melahap masakan umak. Rasanya masakan umakku lebih enak dari pada masakan chef, lezat sekali. Setelah sarapan, ku ambil tasku dan segera bergegas pergi ke luar menunggu angkutan umum sebagai trasnportasi ke sekolah.

“Nang, ini air minummu, hampir saja ketinggalan “ ujar umak seraya memberikan air minumku yang hampir ketinggalan

“ Ahh, umak. Aku ini seperti anak kecil saja harus membawa air minum.  Nanti aku bisa membeli air minum di kantin. Lagi pula angkutannya sudah datang “

“ Tapi, nang…nang”

“ Dah umak “ ujarku seraya berlari menuju angkutan ke sekolah.

Aku langsung naik ke angkutan umum tersebut, tanpa menerima air minum yang diberikan umakku. Walau sedikit kecewa, tepi senyum dari bibir manis umak,tetap rasanya menambah semangatku untuk pergi ke sekolah menuntut ilmu sebagai bekal untuk menggapai  cita – cita yang setinggi langit. Lambaian tanganku dari kaca yang kabur disentuh embun dengan lembut, menambah suatu rasa dipagi hari itu.

Angkutan umum itu berjalan, berjalan meninggalkan senyuman umakku. Tapi tidak apa – apa, berjalanlah terus menembus masa depan.

Jarak dari rumahku ke sekolah sangat jauh, ya… kira – kira 22 Km. sangat jauh. Aku berangkat pukul 06.00,  pagi – pagi sekali aku berangkat. Walaupun jarak dari rumahku ke sekolah sangat jauh, bagiku itu bukan penghalang untuk meraih masa depan yang cerah menanti didepan.

Saat dalam perjalanan menuju sekolah, aku tidak pernah merasa bosan, setiap pagi rasanya mataku dimanjakan dengan pemandangan – pemandangan yang asri.

        

       

Ketika aku dalam perjalanan, aku palingkan pandanganku ke kaca angkutan umum tersebut. Terlihat kaca yang kabur oleh embun, perlahan kugesekkan tanganku ke kaca tersebut. Tampak olehku sawah yang begitu luas. Begitu hijau sekali. Namun, ada sebagian padi yang menguning, mungkin sudah siap dipanen. Lambaian padi – padi tersebut, serasa melambai ke padaku yang akan berangkat ke sekolah ini. Ia begitu lembut melambai, tersentuh oleh angin yang begitu manja berhembus di sawah tersebut. Heeeem, itu baru satu dari pemandangan menakjubkan yang kulihat.

Begitu pun dengan gunung – gunung tangguh nan hijau di kiri kananku. Semangatku ke sekolah, bagaikan akar kuat dari gunung tersebut.

Lanjut perjalanan, terlihat lagi olehku, suatu sungai kecil, yang aku lihat dari celah – celah rumah penduduk. Sungguh besar sekali kuasa Tuhan Yang Maha Esa, air itu begitu jernih. Suaranya yang terdengar di telinga, menambah suatu kesenangan batin yang tak terduga. Air tersebut serasa, mengikuti perjalananku ke sekolah.

Lagi – lagi aku disuguhi pemandangan yang begitu indah. Rasa syukur KepadaNya, tak henti tersirat dalam hati ini. Namun, tiba – tiba hatiku terasa tersentuh ketika melihat ciptaan Tuhan Yang Maha Esa ini. Aku merasa bersalah sekali telah menyakiti hati umakku. Pasti umakku sakit hati sekali.

Tak terasa, aku sudah sampai di terminal. Tiba – tiba, rasanya sudah berbeda dengan di desa. Di terminal ini, semua orang sibuk dengan pekerjaanya. Di sana, terdapat banyak loket dan banyak angkutan umum. Dari yang besar sampai yang kecil.

Perjalananku ke sekolah belum usai. Aku harus naik angkutan umum lagi. Biasanya, disini orang menyebutkan angkot 02, angkot itulah yang akan membawaku ke sekolah.

Diperjalanan berikut ini, pemandangan yang aku lihat berubah menjadi suasanan modern. Ada perumahan – perumahan yang mewah, komplek, dan rumah yang kelihatannya bagus – bagus sekali.

Tak terasa perjalanan yang begitu menyenangkan itu sebentar lagi akan berakhir, karena aku akan sampai ke sekolah. Serasa bagaikan petualangan mata yang begitu membahagiakan bagiku.

Angkotku pun berhenti, menandakan aku sudah sampai ke sekolah. Terlihat olehku, sekolahku yang sangat kucintai. Serasa seperti tersenyum sekolahku, menyambut kedatanganku dan murid – murid yang lain.

Belajar di SMP Negeri 1 Padangsidimpuan sangat mengasyikkan. Sampai di sekolah, pelajaran pertama kami adalah olahraga. Materi kami mengenai basket. Melelahkan sekali tentunya. Keringatku bercucuran deras. Rasa haus pun melanda. Saat bel berbunyi, aku dan teman – temanku yang lain berlari menuju kantin untuk membeli air minum. Teman – temanku berebutanuntuk membelinya. Aku sampai tidak bisa mengambil air minumnya. Akhirnya, setelah tidak ramai lagi, aku mencoba membelinya. Tapi, aku hanya melihat kulkas kantin yang kosong tanpa air minum.

“ Bu, air minumnya masih ada tidak bu? “

“ Yaa, kamu terlambat nak. Semuanya sudah dibeli oleh anak – anak yang lain “

Menyebalkan sekali rasanya. Aku harus berjalan ke kelas dengan kehausan.

“ Kamu kenapa Fadillah ? “

“ Ini, tadi aku mau membeli air minum di kantin, tapi sudah habis. Jadi aku tidak bisa minum lagi. Padahal aku sangat haus “

“ Memangnya, ibumu tidak membekalimu air minum ? “

Mendengar pertanyaan temanku itu, aku langsung teringat akan umakku yang telah menganjurkanku membawa air minum. Aku memang jahat kepada umakku. Padahal, semua yang diberikan umakku kepadaku adalah yang terbaik untukku. Aku menyesal sekali.

Setelah beberapa mata pelajaran sudah selesai, bel pun berbunyi. Menandakan aku harus segera pulang. Aku sangat ingin segera pulang. Aku ingin meminta maaf kepada umakku. Aku sudah membantahnya, dan aku mendapat pelajaran atas itu. Aku tak lagi menghiraukan teman – temanku. Yang ada difikiranku hanya wajah umakku. Aku ingin segera memeluk umakku yang telah lama menantiku pulang, dan aku ingin segera menyalam tangan lembut umakku untuk meminta maaf kepadanya. Selama diperjalanan pulang pun, aku hanya memikirkan umakku.

Tak lama kemudian, aku sampai di rumah. Aku berlari dan berlari menuju pintu rumah, hanya untuk meminta maaf kepada umakku. Namun, aku tak melih0061t wajah manis umakku. Aku hanya melihat rumah kosong tanpa penghuni. Tapi tiba – tiba.

“ Kamu sudah pulang? “

“ Ompung. Kapan ompung datang? Aku sangat terkejut” ujarku dengan kaget.

“ Ompung datang tadi siang. Ompung datang kemari untuk menemani kalian “

“ Umak kemana ompung? Aku tidak melihat umak”

“ Umak pergi ke rumah temannya. Suami teman umakmu katanya meninggal, sehingga umakmu harus pergi kesana “

“ Oh, begitu ya ompung “

Aku merasa kesal tidak dapat bertemu dengan umakku padahal aku sudah berharap ingin bertemu dengannya.

Tak lama kemudian senja pun berganti malam, menutup ceritaku hari ini. Aku menemui ompungku yang duduk santai di kursi goyangnya.

“ Ompung sedang apa? “

“ Ompung sedang duduk – duduk “

Ompungku sangat senang bercerita kepadaku. Ompungku menceritakan sebuah kisah kepadaku. Kali ini ompungku menceritakan kisah tentang suatu kejadian yang pernah terjadi ketika ompungku kecil dulu.

 “Malam ini, ompung akan menceritakan kepadamu tentang sebuah kerajaan yang pernah berdiri di kampung ini “

“Bagaimana kisahnya ompung? “

“Pada zaman dahulu kala, di suatu hutan belantara, yang jauh dari kebisingan. Dan, belum pernah ada manusia yang pernah masuk kesana, kalau pun ada seseorang itu tidak akan dapat kembali lagi. “

Terdapat suatu keluarga, golongan makhluk halus. Mereka merupakan penghuni hutan itu. Dalam keluarga itu, memiliki seorang putri yang sangat cantik sekali. Seminggu purnama, putri cantik itu, bisa menjelma menjadi seseorang yang layaknya seorang manusia.

“Ihh, mengerikan”

Ia seringberjalan – jalan di hutan. Kadang disekitar sungai Ia bermain dan mandi di sungai itu. Setelah seminggu purnama, Ia kembali menjelma menjadi seorang golongan makhluk halus.

        Pada suatu hari, kembali tiba saatnya purnama, ia pun kembali menjelma menjadi seorang manusia. Di tempat berbeda, di suatu tempat, terdapat suatu kerajaan, yang dipimpin oleh seorang raja yang memiliki putra semata wayangnya.Putra mahkotanya itu sangat tampan sekali.

Suatu hari anak raja tersebut meminta izin untuk pergi berburu ke hutan belantara itu, tempat keluarga golongan makhluk halus tersebut.

“Sebaiknya jangan anakku,tempat itu belum dikuasai manusia, belum banyak kaki manusia menginjak hutan itu. Seanainya pun ada, tidak ada yang pernah keluar dari hutan tersebut “

“Aku mohon Ayah, aku akan bisa menjaga diriku dendiri, lagi pulakan masih ada pengawal dan hulubalang istana yang mendampingi perjalananku”

  “Baiklah nak, jika itu memang keinginanmu “

Tekad putra mahkota itu sudah sangat bulat, Ia menyiapakan pasukan, dan hulubalang, untuk segera berangkat menuju hutan belantara itu.

Mereka pun berangkat. Sampai di hutan tersebut, hawa – hawa mistis pun mulai dirasakan oleh putra mahkota itu beserta pengawalnya. Ditengah – tengah perburuannya, Pangeran tersebut merasa kehausan. Ia pun pergi ke sungai yang ada di dekat hutan belantara tersebut.

        Saat minum di sungai itu, Ia tak sengaja melihat Mongga, putri makhluk halus tersebut. Ia sangat terpesona melihat putri itu , begitu juga dengan putri itu.

    “Kenapa engkau ada disini?”

“Aku sering bermain, dan mandi disini, rumahku juga ada di hutan ini, tetapi lumayan jauh dari sini.

“Bolehkah aku tahu siapa namamu “

“Namaku putri Mongga “

“Oh, nama yang bagus sekali. Perkenalkan namaku Pangeran, putra dari raja  suatu kerajaan di luar hutan ini “

“Aku permisi mau pulang, hari sudah mulai petang “

        “Oh, ia aku juga akan pergi. Lain kali kita bertemu lagi disina ya“

        “Iya “ jawab putri Mongga sambil mengangguk halus.

                Watak putri Mongga  yang lemah lembut dan baik menambah rasa cinta Pangeran kepada putri Mongga.

  Mereka pun semakin sering bertemu. Hingga seminggu purnama pun telah selesai. Pangeran tetap datang dan mencari – cari putri Mongga yang Ia cintai.

  Karena putri Mongga yang juga menaruh hati kepada Pangeran, ia sangat menginginkan sekali untuk mendampingi Pengeran. Seminggu purnama pun telah tiba, putri Monggga sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Pangeran.

“Sebenarnya, aku adalah seorrang putri dari keluarga golongan makhluk halus.  Aku hanya dapat menjelma menjadi manusia seminggu purnama “

Pangeran sangat terkejut. Tapi itu bukan menjadi penghalang untuknya, untuk tetap mencintai putri Mongga.

        “Putri Mongga , sebenarnya aku bermaksud melamarmu, dan menjadikanmu seorang pendamping hidupku. “

  “Aku akan pergi menanyakannya kepada Ibuku, apakah masih ada jalan lain agar kita bisa tetap bersama “

  “Baiklah aku akan menunggumu untuk sementara waktu “

Puteri Mongga pun lalu menanyakannya kepada ayahnya.

  “Ayah, Aku minta izin untuk menikah dengan seorang pangeran. Tapi ayah, Ia seorang manusia, bukan makhluk seperti kita. Bolehkah aku menikah dengannya ayah ? “

  “Sebenarnya untuk dapat menikahinya, kamu harus memenuhi syarat. Tapi menurut ayah sebaiknya kamu tak usah menikah dengannya. Karena persyaratan tersebut tidak boleh dilanggar “

  “Apa persyaratannya ayah? Apa pun akan aku lakukan “



“Baiklah anakku. Syaratnya adalah kamu harus menjadi manusia untuk selamanya. Engkau dapat menjadi manusia setelah ayah menancapkan paku ini di lehermu nak “

  “Baiklah ayah. Tancapkanlah “

  Ayahnya pun menancapkan paku  yang membuat putri Mongga  akan menjadi manusia selamanya. Ia pun pergi meninggalkan ayahnya untuk selamanya.

  “Ingat anakku, jika ada orang yang mencabut paku itu, maka kamu akan menjadi makhluk seperti semula “

  “Aku akan selalu mengingatnya ayah. Selamat tinggal “

  Ia pun menemui pangeran untuk menyatakan bahwa ia telah bersedia dinikahi. Mereka pun menikah dan hidup bahagia.

  Setelah beberapa bulan menikah, mereka pun dikaruniai seorang anak perempuan yang manis. Anak itu diberi nama Dewi Shina. Ia tumbuh menjadi gadis yang cantik.

  Suatu hari, putri Mongga menyuruh anaknya menyisir rambutnya. Pada saat menyisir rambutnya, Dewi Shina melihat tancapan paku di leher ibunya.

  “Ibu, apa yang ada di leher ibu? “ tanyanya dengan penasaran.

“Itu bukan apa – apa nak. Kamu tidak boleh menanyakannya atau pun mencabut tancapan itu “

  “Kenapa ibu? “

  “Sudahlah kamu tidak perlu menanyakan itu lagi “

Suatu hari rasa penasaran Dewi Shina masih menggebu – gebu di hatinya. Ia masih penasaran dengan tancapan yang ada di leher ibunya, putri Mongga. Hingga pada saat itu, ibunya sedang tidur terlelap. Sangking penasarannya, Ia melanggar perintah ibunya. Ia mencabut paku itu. Dan apa yang terjadi, suara guntur, awan gelap, dan kilat menghiasi angkasa. Tiba –tiba alam terasa berbeda. putri Mongga pun tiba – tiba terbangum dari tidurnya yang lelap. Entah mengapa ibunya langsung berubah menjadi sesosok makhuk aneh.

  “Apa yang telah engkau lakukan anakku. Engkau telah melanggar perintah ibumu. Kini kau harus merasakan akibatnya. Ibu akan pergi meninggalkanmu untuk selamya “

  “Jangan ibu, maafkan aku “

  “Sudah terambat nak. Selamat tinggal “

Puri Mongga pun melayang ke angkasa meninggalkan Pangeran dan Dewi Shina. Ia pergi untuk selama – lamanya. Ia bersemayam disebuah batu yang besar. Hingga sekarang batu itu dinamakan dengan batu putri Mongga. Masyarakat kecil di kampung ini mempercayai ada kekuatan ghaib yang tersimpan di batu itu.

        Begitulah kisah dari putri Mongga dan Dewi Shina.

  “Selesai. Cu, begitulah ceritanya “

  “Sangat disesalkan sekali ya ompung “

  “ Apa yang kita dapat dari cerita ini adalah agar kita menyayangi orang tua kita. Kita tidak boleh membantah orang tua kita, karena apa yang diberikan orang tua kita adalah yang terbaik untuk kita “

“Iya, ompung “

Aku pun merasa mendapat pelajaran dan hikmah dari cerita ompungku tersebut. Rasanya, cerita dari ompungku itu sangat menambah suatu pelajaran berharga untukku. Sekaligus, reffresing yang baik. Begitulah akhir ceritanya. Berakhirnya cerita itu, kami menyambungnya dengan cerita baru dengan secangkir teh dan roti yang akan siap kami santap.

            Dan tak lama kemudian, umakku pulang. Aku langsung memeluk umakku dan meminta maaf kepada umakku.

             “ Umak, aku minta maaf karena sudah membantah umak “

             “ Iya nak, umak akan selalu memaafkanmu “

  Aku pun menyadari kesalahanku, dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi.

Selesai

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:

Leave a Reply